prediksi bola
Strategi pelatih 8 Besar Liga Super Indonesia
Published On: Thu, Sep 18th, 2014

Strategi pelatih 8 Besar Liga Super Indonesia

Adu hebat pelatih akan tersaji di babak Delapan Besar Indonesia Super League (ISL) musim ini. Di antara kontestan delapan besar memang ada pelatih yang mengoleksi trofi juara di liga kelas satu sebelumnya. Pelatih yang dimaksud adalah Jacksen F Tiago (Persipura Jayapura), Rahmad Darmawan (Persebaya Surabaya), serta Jafri Sastra (Semen Padang).

Walau tak mengurangi motivasi musim ini, bagi ketiganya gelar juara di kompetisi tertinggi sudah biasa. Jacksen pernah mengangkat trofi bersama Persipura Jayapura di ISL musim lalu, Rahmad Darmawan pernah juara bersama Sriwijaya FC dan Persipura.

jadwal 8 besar isl

Sedangkan Jafri Sastra pernah membawa Semen Padang juara Indonesian Premier League (IPL). Di luar itu, pelatih yang terlibat di delapan besar belum memiliki prestasi level tertinggi. Jika tim racikannya impresif atau bahkan lolos ke semifinal apalagi meraih juara, maka gengsi otomatis menanjak.

Jadi, bagi para pelatih ini, ambisi tim berjalan berdampingan dengan ambisi pribadi di babak Delapan Besar ISL nanti. Apa lagi kalau bukan menaikkan status dari level pelatih biasa menjadi pelatih bergelar juara. Siapa mereka dan bagaimana kans meraih kejayaan bersama timnya?

Suharno (Arema Cronus)
Suharno sudah puluhan tahun menjalani profesi sebagai pelatih sepak bola profesional. Namun baru musim ini mendapatkan kesempatan terbaik di orbit tertinggi setelah menangani Arema Cronus. Dibekali materi tim yang mentereng, saat inilah kesempatan Suharno sejajar dengan pelatih kelas satu tanah air. Kans untuk mencapai itu sangat terbuka setelah membawa Arema memimpin klasemen wilayah barat dan cukup konsisten musim ini.

Dukungan finansial besar dari manajemen juga menjadi hal baru bagi Suharno yang sebelumnya identik sebagai ‘pelatih tim sakit’. Tak memiliki mental juara disebut sebagai problem bagi Suharno, namun dengan kekuatan yang komplet dia memiliki kans mematahkan keraguan tersebut.

Eduard Tjong (Persela Lamongan)
Nama Eduard Tjong relatif masih asing di publik bola Indonesia sebelum menangani Persela Lamongan. Membuka data diri dia, hanya muncul nama Persis Solo sebagai tim paling ternama yang pernah ditanganinya. Musim ini bisa menjadi musim terbaik pelatih berusia 42 tahun setelah membawa Persela Lamongan lolos ke delapan besar.

Sayang materi tim yang pas-pasan dibanding kontestan lain, bakal sulit membawa Persela lolos ke semifinal. Edu, sapaan akrabnya, tak sekadar butuh kerja keras dan semangat tinggi timnya. Juga butuh banyak keberuntungan untuk lolos dari lubang jarum Grup A yang dihuni Arema Cronus, Persipura Jayapura dan Semen Padang.

Djadjang Nurdjaman (Persib Bandung)
Gelar juara mungkin sudah akrab bagi Djadjang Nurdjaman. Semasa menjadi pemain dan asisten pelatih, dia pernah merasakan gelar juara. Tapi sejak menjadi pelatih kepala, Djadjang belum berhasil meraih gelar di level paling bergengsi. ISL 2014 ini menjadi peluang besar bagi dia untuk melengkapi koleksi medali juara.

Memiliki skuad mumpuni dan stabil sejak ditanganinya, Persib dijagokan bakal menjadi salah satu semifinalis. Bagi Djadjang, gelar juara sebagai pelatih bakal membuatnya diakui sebagai pelatih jempolan di sepak bola Indonesia. Bahkan mungkin kesempatan menjadi pelatih tim nasional bakal terbuka untuknya.

Dejan Antonic (Pelita Bandung Raya)
Membawa Arema IPL ke perempatfinal AFC Cup dan Pro Duta juara play off Divisi Utama LPIS belum membuat Dejan Antonic ‘dihargai’ di pentas ISL. Tapi dia telah membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih jempolan dengan membawa Pelita Bandung Raya (PBR) ke babak delapan besar. Prestasi yang mengejutkan jika melihat mereka adalah sekumpulan pemain dengan kualitas sangat tidak istimewa. PBR diramalkan bakal sulit menghadapi Persib Bandung, Persebaya Surabaya dan Mitra Kukar. Tapi bukan berarti Dejan tak bisa memberikan kejutan-kejutan lagi. Jika membawa timnya minimal bermain impresif di fase ini, Dejan bakal semakin diakui di sepak bola Indonesia.

Stefan Hansson (Mitra Kukar)
Membawa lisensi kepelatihan UEFA Pro ke Indonesia, tak langsung menjadikan semua mudah bagi pelatih asal Swedia ini. Dua musim di Tenggarong, dia hanya sekadar membawa Mitra Kukar sebagai tim papan atas. Tidak lebih dari itu. Pelatih berusia 56 tahun ini butuh sebuah gelar di Indonesia untuk melengkapi delapan titel liga yang pernah diraihnya.

Bisakah Hansson membawa Mitra terbang tinggi musim ini? Bisa tapi relatif berat. Naga Mekes harus berkumpul dengan Persebaya Surabaya dan Persib Bandung. Bisa lolos ke semifinal atau bahkan final sudah menjadi catatan istimewa bagi Stefan Hansson bersama Mitra Kukar (sindonews)

About the Author

-

member id MCI indnesia

twitter euro 2012
-->